Sabtu, 29 Maret 2008

Soe Hok Gie dalam kata - katanya sendiri

Soe Hok Gie dalam Kata - Katanya Sendiri


Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah : Who am i ? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.

Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur - lumpur yang kotor, tapi suatu saat dimana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.

Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.

Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa - rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.

Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip - prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.

Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi "manusia - manusia yang biasa". Menjadi pemuda - pemuda dan pemudi - pemudi yang bertingkah laku sebagai manusia yang normal, sebagai manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.

Saya ingin melihat mahasiswa - mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip - prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.

Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain - lain. Setiap tahun datang adik - adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban - korban baru untuk ditipu oleh tokoh - tokoh mahasiswa semacam tadi.

Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada ? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir ?

Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala - gala yang non humanis ...

Kita seolah - olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang - orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.

Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan - kekurangan kita.

Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.

Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.

Saya tak bisa menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.

Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasakan kedukaan.



Komentar
dari kecil saya sudah suka membaca. tapi tidak pernah tumbuh kepedulian untuk lebih peduli dengan masalah2 yang ada di dunia terutama di Indonesia ini. jadi, saya membaca hanya untuk hiburan saja. tahun 2005, tepat saat saya baru saja duduk di kelas 3 sma, film soe hok gie muncul. saya penasaran, apa sih ini? apa istimewanya dia kok sampai dibikinin film? ternyata, akhirnya saya tahu kalau si hok gie ternyata punya buku harian yang diterbitkan dan akhirnya jadi inspirasi filmnya. dan sekali lagi, saya penasaran untuk tahu isi buku itu. saya tanya teman saya, ternyata dia punya buku itu tapi yang cetakan lama dan akhirnya saya pinjam buku itu. saat saya membaca, wah, saya jadi malu! malu karena tidak terlalu peduli terhadap dunia, malu karena membiarkan hidup saya mengalir begitu saja tanpa mau meninggalkan jejak2 yang berarti. dan sejak saat itulah, saya sadar dan mulai peduli terhadap dunia. saya juga menjadi lebih idealis dan memandang hidup ini dari sisi yang berbeda. soe hok gie mengajarkan saya untuk menjadi manusia yang jujur, berani dan adil. kata2 gie yang paling mengesankan saya adalah "lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan." prinsip2 gie mempunyai banyak kesamaan dengan prinsip saya. buku catatan seorang demonstran ini WAJIB dibaca oleh anak muda!! buku ini telah mengubah hidup saya. saat ini, saya sudah diambang masa sma, setahun lewat setelah membaca buku gie untuk yang pertama kalinya dan sekarang sudah 3 kali saya membaca buku itu. pribadi saya pun sudah banyak berubah, terutama dalam soal pemikiran serta sikap yang makin penuh dengan idealisme. mungkin kalau film gie tidak pernah dibuat, saat ini saya hanya akan menjadi remaja yang tidak peduli dan tidak punya idealisme serta cita2 dalam hidup. terimakasih, gie...

Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa

pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu

memintaku minum susu dan tidur yang lelap?

sambil membenarkan letak leher kemejaku.

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, kenbah Mandalawangi.

kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram

meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu

ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,

lebih dekat.

(lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi

kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya

kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara

ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

apakah kau masih akan berkata

kudengar derap jantungmu

kita begitu berbeda dalam semua

kecuali dalam cinta

(haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram

wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara

dalam bahasa yang tidak kita mengerti

seperti kabut pagi itu)

manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan

dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.

Soe Hok Gie
Selasa, 1 April 1969

Tidak ada komentar: